Gabung dan dapatkan Fasilitas menarik disini.

Minggu, 18 April 2010

MAKALAH STRATEGI DAKWAH dan POLITIK IQOMATUDDIN : Belajar dari Ikhwanul Muslimin.

BAB I
PENDAHULUAN
Islam adalah satu sistem yang menyeluruh serta merangkumi semua aspek kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air ataupun pemerintahan dan rakyat. Ia adalah akhlak dan kekuatan ataupun rahmat dan keadilan. Ia adalah kebudayaan dan undang-undang ataupun keilmuan dan kehakiman. Ia juga adalah materi dan harta benda ataupun kerja dan kekayaan. Ia adalah jihad dan dakwah ataupun ketenteraan dan fikrah. Sebagaimana juga ia adalah akidah yang lurus dan Ibadah yang benar, semuanya sama.
Itu adalah sekelumit pemahaman dan pemikiran Hasan Al Banna dalam mendefinisikan Islam, ini merupakan hal yang baru dalam dunia Islam yang dilakukan Hasan Al Banna dalam menterjemahkan Islam dalam kehidupan.
Pemikiran beliau sangat jauh berbeda dengan cara berfikir penguasa dunia Islam saat itu, dimana seruan agar mencontohi cara barat oleh Kamal Attaturk bertiup kencang dan tidak ada henti. Bukan hanya itu, bahkan majalah-majalah dan surat khabar yang membuat propaganda dengan slogan 'Mesir adalah sebahagian dari Eropa' telah membanjiri pasaran. Para nasionalis mendesak pemerintahan Mesir agar kembali ke puncak kejayaan Firaun dan mencungkil adat-adat bangsa Mesir purba.
Berangkat dari kondisi ini, Mulailah terbersit didalam benak Hasan Al Banna untuk membuat sebuah pergerakan, yang akhirnya dikenal denagan nama Ikhwanul Muslimin. Dan bergeraklah jama’ah ini berdakwah kelapisan masyarakat mesir pada waktu itu. Dalam upaya dakwahnya. Jama’ah Ikhwanul Muslimin memiliki saranna-sarana danstrategi dakwah tersendiri. Jama'ah Ikhwanul Muslimun bercita-cita untuk menjalankan tanggung jawabnya ke seluruh Mesir. Tujuannya ialah menggantikan masyarakat Mesir secara menyeluruh kepada masyarakat yang berlandaskan Syariah Islam.
Dalam strategi dakwah ikhwanul muslimin adalah dengan Tarbiyah yang mengarah kepada perbaikan diri sendiri, keluarga, masyarakat, hingga tatanan negara. Maka terbentuklah sebuah negara dengan masyarakat yang berlandaskan syari’at islam. Itulah yang diinginkan Jama’ah ini.
Di Indonesia sendiri jama’ah Ikhwanul Muslimin masuk ke Indonesia melalui jamaah haji dan kaum pendatang Arab sekitar tahun 1930. Pada zaman kemerdekaan, Agus Salim pergi ke Mesir dan mencari dukungan kemerdekaan. Waktu itu, Agus Salim menyempatkan untuk bertemu kepada sejumlah delegasi Indonesia. Ikhwanul Muslimin memiliki peran penting dalam proses kemerdekaan Republik Indonesia. Atas desakan Ikhwanul Muslimin, negara Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia, setelah dijajah oleh Belanda. Dengan demikian, lengkaplah syarat-syarat sebuah negara berdaulat bagi Republik Indonesia.
Dalam bab-bab selanjutnya akan dibahas lebih mendalam mengenai ikhwanul Muslimin, serta Strategi dakwah dan politik iqomatuddin (Penegakan Agama) yang mungkin bisa kita ambil sebagai pedoman ataupun referensi dalam menjalankan dakwah di Indonesia.







BAB II
MENGENAL IKHWANUL MUSLIMIN

Sejak menduduki Mesir pada 14 September 1882, Inggris telah melakukan dominasi terhadap segala sistem masyarakat dan mengkokohkan pijakannya. Itu dilakukan dengan cara menghadirkan militer dan pendudukan ekonomi, politik, budaya, dan pendidikan. Lalu terjadilah revolusi 1919 untuk melahirkan kemerdekaan politik seutuhnya, yang menghasi;kan beberapa hal positif, seperti berakhirnya proteksi Inggris terhadap mesir dan Mesir menjadi negara merdeka yang mempunyai supermasi berdasarkan proklamasi 28 Februari 1922, meskipun Inggris menuntut syarat untuk menguasai empat hal secara mutlak. Keempat hal itu ialah : jaminan yang melegitimasi mereka untuk melakukan segala intervensi dalam segala persoalan internal mesir; jaminan tentara mereka tetaap berada di mesir (yang menjadikan kemerdekaan ini hanya sekedar formalitas); penguasaan mereka atas polisi dan tentara mesir; dan penguasaan ekonomi atas Terusan suez dan Bank Negara.
Di sisi lain setelah runtuhnya khilafah Islamiyah di Turki yang di bubarkan oleh bapak sekuler Kamal Atarturk pada tahun 1924. Dunia Islam hidup dalam kegelapan bagaikan anak ayam kehilangan induknya, maka bermunculan gerakan sekulerisme di setiap Negara Islam bagaikan jamur di musim hujan, tiada yang dapat menghentikannya, maka tampilah tokoh-tokoh masyarakat yang berkiblat ke barat.
Selepas Perang Dunia Pertama, golongan yang berkiblat ke barat bergerak sangat aktif mempromoikan pemahaman mereka di Mesir. Seiring dengan itu fahaman nasionalisme di dunia Islam mencapai puncaknya. Sementara Pergerakan Emanspasi Wanita semakin bertambah kuat, para wanita kelas atas Mesir memberontak; enggan memakai purdah. Mereka justru memakai fashion ala Eropa, menghadiri kegiatan sosial yang bercampur bebas antara lelaki dan perempuan, baik secara tertutup ataupun terbuka. Mereka juga mendesak supaya wanita diberi hak yang setaraf dengan lelaki.
Para ulama tidak berdaya menahan serangan dari para Modernis kecuali hanya sekedar melabelkan murtad pada mereka. Keadaan ditambah parah dengan para ulama jahat yang begitu mudah dipermainkan oleh pemerintah taghut. Kondisi seperti ini telah mengenapkan kecelaruan sebahagian umat Islam dalam kejahiliahan. Ulama Kairo saat itu jatuh ke lembah yang paling hina, kerena mereka menyetujui fatwa yang diberi oleh Rektor Universitas al Azhar bahwa Presiden Faruk layak untuk memerintah dan digelar Khalifatul Mu'min dengan alasan "Faruk merupakan seorang Islam yang datang dari keturunan Rasulullah Saw.".
Lahirnya Ikhwanul Muslimin
Dari kondisi-kondisi diatas Hassan Al Banna dan para sahabatnya merasa gelisah mengenai situasi kritis ini, di dalam buku hariannya beliau mencatat: "Hanya Allah yang mengetahui berapa malam kita akan berbincang tentang kondisi negara dan hubungannya dengan kehidupan rakyat. dan pengaruhnya terhadap masyarakat kelas bawah serta cara penyelesaiannya? Kami diskusi hal tersebut dengan penuh perhatian sehingga meneteskan airmata". Dalam buku tersebut, Hassan Al Banna mengakui bahwa keputusannya mendirikan Jama’ah Ikhwanul Muslimin merupakan manifestasi dari sikap beliau dan sahabat yang anti terhadap kejahilan Ummat Islam. Beliau menganggap bahwa masjid dan khutbah saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah penyakit umat ini.
Pada tahun 1928 Ikhwanul Muslimin resmi didirikan dengan tujuan untuk menyelesaikan nasib malang yang menimpa umat Islam saat itu. Hasan Al Banna jauh berbeda dengan tokoh Islam lainnya seperti Jamaluddin Al-Afghani, Sheikh Muhammad Abduh dan Sayyid Rashid Ridha', mereka lebih mengutamakan penulisan dan dakwah billisan dalam kiprahnya. Ini disebabkan Harakah Islam yang dipimpin Hasan Al Banna sangat syumul dan komplit sehingga menyentuh berbagai aspek kehidupan seperti ibadah, akidah, mu'amalah, akhlah, politik, kebudayaan, ekonomi, social, olah raga dan sebagainya.
Hassan Al Banna mulai mengunjungi kedai kopi untuk melakukan dakwah secara halus, tausiah beliau ini mulai menusuk hati para pendengar dan cukup untuk menyadarkan orang yang khilaf. Beginilah cara beliau berdakwah dan mentarbiyah masyarakat hingga larut malam.
Pada musim liburan di musim panas, beliau menjelajah seluruh Mesir dengan jalan kaki atau naik kereta api buruk kelas tiga yang penuh sesak. Beliau tidak melalui sebuah kampung dan kota melainkan berhenti dan bermalam di situ, guna menyampaikan dakwah Islam kepada orang kampung di masjid-masjid dan di rumah-rumah. Beliau sangat bersemangat dalam menyampaikan dakwah sehingga menyentuh hati mereka yang mendengarkannya, mulai dari buruh rendah dan kasar hingga para ulama yang mulia mengelilinginya untuk mendengar dakwahnya yang berapi-api.
Pada tahun 1933, kantor Ikhwanul Muslimin dipindahkan dari Ismailiah ke Kairo. Dalam masa tiga tahun di sana, Harakah Ikhwanul Muslimin membuat penekanan yang berat dalam mendidik umat islam supaya menghayati islam, yaitu melalui cara menggerakkan masjid-masjid, mendirikan sekolah-sekolah dan pusat-pusat kebajikan di seluruh Mesir. Begitulah Hasan Al Banna membuat gebrakan baru yang belum di buat oleh para ulama besar di Al Azhar saat itu.
Kota Kairo saat itu berkiblat ke Eropa. Umat Islam malu untuk sembahyang tempat umum. Murid-murid di sekolah belajar membenci apa saja perkara yang berkaitan dengan Islam. Di kota besar inilah Hasan Al Banna berhasil mengajak ratusan pelajar didikan Barat kembali mencintai Islam dan menjadi muridnya yang gigih berjuang.
Jama'ah Ikhwanul Muslimun bercita-cita untuk menjalankan tanggung jawabnya ke seluruh Mesir. tujuananya ialah menggantikan masyarakat Mesir secara menyeluruh kepada masyarakat yang berlandaskan Syariah Islam.
Karakter Dakwah Ikhwanul Muslim

Ikhwanul Muslimin adalah adalah sebuah nama gerakan islam yang lahir di mesir pada tahun 1928. Keberadaannya menjadi sangat penting karena kiprahnya yang luar biasa dalam menggelindingkan arus kebangkitan islam abad 20. Diakui atau tidak ikhwan telah menjadi inisiator dan inspirator bagi komunitas umat islam diberbagai belahan bumi untuk bangkit dari keterjajahan dan ketertindasan. Mereka kemudian mewujud dalam berbagai gerakan dan jama’ah dalam beragam nama.
Berbicara ikhwanul muslimin berarti berbicara tentang Tarbiyah, demikian sebaliknya. Tarbiyah merupakan karakter dakwah dari Ikhwanul Muslimin. Istilah Tarbiyah dikalangan aktivis dakwah sering kali dikaitkan dengan Ikhwanul Muslimin.
Untuk lebih lengkap mengenal karakter Ikhwanul Muslimin, kita harus menyertakan sebuah nama, dialah Hasan Al Banna pendiri dari jama’ah Ikhwanul Muslimin. Awalnya dia melihat kondisi umat saat itu benar-benar dlam keadaan terpuruk dan dikuasai oleh pihak asing. Kemudian beliau melanglang buana untuk melakukan pengamatan panjang terhadap kondisi umat, sampailah pada suatu kesimpulan bahwa umat ini harus bangkit. Namun aset umat ini untuk kembali bangkit telah terkuras habis, kecuali satu : itulah pemuda. Lantas apa yang harus dilakukan terhadap mereka? Demikian Hasan tercenung hingga sampai pada akhirnya dia mengambil satu sikap, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan kecuali mendidik, membina, dan membangun kepribadian pemuda islam (mentarbiyah) sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang tangguh. Karena dari pribadi-pribadi yang baik akan terbentuk keluarga yang islami, dan dari keluarga-keluarga yang islami akan terbangun sebuah masyarakat muslim yang diridhai Allah. Itulah yang menjadi fokus dakwah dari Ikhwanul Muslimin yang dipimpin oleh Hasan Al Banna.

TUJUAN IKHWAN SECARA RINCI
1. Individu
Individu muslim yang kita inginkan adalah yang memiliki fisik kuat, mulia akhlaknya, berwawasan luas, giat berusaha, selamat akidahnya, benar ibadahnya, pejuang sejati, menjaga waktunya, tertib urusanya, bermenfaat bagi orang lain, mampu membimbing keluarga untuk menghormati fikrahnya, menjaga tata krama Islam dalam segenab kehidupan rumah tangganya, pandai memilih istri, pandai menjelaskan hak dan kewajiban istrinya, serta pandai mendidik anak-anak dan orang-orang yang berada dalam tanggungannya dengan ajaran Islam.
Ia juga berjuang untuk mengembalikan khilafah yang hilang dan kesatuan yang diidam idamkan, juga berjuang untuk memandu dunia dengan menyebarkan dakwah islam di seantero wilayahnya.
2. Rumah tangga
Rumah tangga muslim yang kita inginkan adalah rumah tangga yang suami dan istrididalamnya mengetahui hak dan kewajibanya masing-masing, lalu mereka komitmen memeliharanya. Pandai mendidik anak-anak dan pembantu rumah tangganya dengan prinsip-prinsip Islam.
3. Masyarakat muslim
Adalah masyarakat yang memiliki akal pikiran, hati dan perasaan islami, masyarakat yang beriman dan beramal sholeh dan saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.
4. Pemerintahan
Kita menghendaki tegaknya pemerintahan islami di semua kawasan islam. Tujuan ini memerlukan penjelasan rinci agar tidak terjadi kerancuan dan kesalahpahaman.
Pertama, Hasan Al Banna mengatakan, pemerintahan islam adalah pemerintah yang anggotanya orang-orang muslim, melaksanakan kewajiban, tidak bermaksiat secara terang-terangan dan melaksakan hukum-hukum islam.
Kedua, Hasan Al Banna mengatakan, tidak apa mengunakan orang-orang non muslim jika dalam keadaan terpaksa, yang penting mereka tidak didudukan dalam posisi pemimpin.
Ketiga, Hasan Al Banna mengatakan, Bentuk dan jenis pemerintahan tidak menjadi persoalan sepanjang sesuai dengan kaidah-kaidah umum dalam pemerintahan islam.
5. Daulah Islamiyah
Adalah daulah inti. Menurut Hasan Al Banna daulah inti adalah daulah yang memimpin negara-negara Islam dan menghimpun ragan kaum muslimin, mengembalikan keagungannya, serta mengembalikan wilayah yang telah hilang dan tanah air yang di rampas. Maka penjelasan ini pula mencantumkan beberapa kewajiban daulah.
Adapun kewajiban dari Daulah tersebut adalah:
• Memimpin negara-negara Islam.
• Ia Menghimpun beragam kaum muslimin.
• Mengembalikan keangungan umat islam dengan mengembalikan kekuasaan politik islam, serta mengembalikan bumi dan tanah air Islam yang telah dirampas oleh penjajah.

6. Tegaknya Daulah dan Khilafah Islamiyah.
Dalam kaitannya dengan ini hasan Al banna menyebutkan, “Semua Negara Islam harus bebas dari cengkraman kekuasaan Asing.”
Hasan Al Banna juga menyebutkan beberapa kewajiban-kewajiban daulah islamiyah :
a. mengamalkan hukum-hukum islam; dan itu merupakan kewajiban.
b. melaksanakan sistem sosial islam secara lengkap.
c. memproklamasikan prinsip-prinsip yang tegas ini, jangan sampai ia dibiarkan tampak tidak jelas.
d. menyampaikan dakwah islam dengan arif bijaksana kepada semua orang, jangan sampai didunia ini ada orang-orang yang belum tersentuh oleh dakwah islam yang disertai dengan atgumen yang jelas.
7. Dunia seluruhnya hanya tunduk kepada Allah SWT
Hasan Al Banna berkata, kemudian daulah islamiyah itu mengibarkan panji-panji jihad dan dakwah, sehingga dunia seluruhnya akan menjadi berbahagia dangan ajaran islam. Daulah islamiyah juga bertanggung jawab untuk menjadi guru bagi dunia seluruhnya dan menyebarkan dakwah islamm sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama itu semata-mata bagi Allah.

Ketujuh hal tersebut diatas saling berkaitan antara yang satu dengan yang lain. Tegaknya suatu negara islam di suatu kawasan merupakan satu tahap untuk menegakkan pemerintah islam inti. Tahapan ini mempersiapkan tahapan berikutnya, yakni kesatuan islam, yang merupakan tahapan menuju tegakknya kekuatan islam internasional, dan ini merupakan tahapan bagi proses selanjutnya.Dengan demikian maka dengan tahapan tujuan tadi, maka seorang ikhwah akan memiliki sebuah rencana besar dalam perjalanan dakwahnya, dan azzam yang kuat untuk menjalaninya. Tujuan-tujuan tadi yang membina seorang ikhwah sehingga menjadi muslim peradaban.

Sarana-Sarana Untuk Mencapai Tujuan Ikhwanul Muslimin

Berbicara tujuan mengharuskan perbincangan tentang sarana yang memadai untuk mencapai tujuan itu, maka untuk mencapai tujuan-tujuan diatas Ikhwanul Muslimin memiliki sarana-sarana untuk mencapainya, yaitu:
• SARANA PADA TUJUAN PERTAMA
Secara umum, sarana untuk membentuk pribadi muslim ini ada tiga, yang harus disatukan agar menghasilakn buah secara utuh yaitu murrabi [pembina], manhaj [sistem], dan lingkungan yang sehat.
Seberapapun cacat yang menimpa salah satunya, ia akan berpengaruh terhadap munculnya cacat dalam proses pembentukan pribadi muslam yang paripurna, kecuali jika pribadi itu mendapatka sentuhan tangan/hidayah Allah secara langsung.

• SARANA PADA TUJUAN KEDUA
Sarana untuk mewujudkan keluarga muslim adalah;
1. Setiap akh harus memberikan perhatian yang besar terhadap persoalan rumah tangganya
2. Jamaah harus memberikan hak sewajarnya bagi aktivitas wanita.
3. Setiap akh harus memilih istri yang sholihah
4. Seorang akh seyogyanya diikat dengan anak-anaknya, saudara-saudaranya, juga dengan perangkat-perangkat jamaah.
5. Untuk tujuan ini seharusnya jamaah mendirika unit-unit tertentu guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.
6. Jamaah dan individu harus memelihara bersama-sama rumah tangganya dari penyelewengan.
7. Jamaah harus menyelenggarakn majelis-maaaaaaajelis untuk wanita di masjid-masjid
8. pemimpin harus memberikan perhatian khusus terhadap buku tentana wanita.
9. Sedapat mungkin jamaah harus menggalakan pernikahaan di kalangan anggotnya dan mau menikahi para janda.
10. Semua ini harus terwujud sebelum dan sesudah tegaknya kekuasaan.

• SARANA PADA TUJUAN KETIGA
Tujuan ketiga dari tujuan-tujuan kita adalah terwujudnya masyarakat muslim. Melalui pengadaan halaqoh baik yang umum maupun khusus di tengah masyarakay, melalui penyebaran buku-buku dan ceramah, melalui dialog rutin dengan semua pihak untuk mengingatkan mereka agar berkhitmat pada islam, memberikan pemahaman pada oang-orang non islam agar tidak takut pada islam, melalui pendalaman kepercayaan kepada pribadi dan jamaah kita bahwa ia sangat perhatian pada persoalan umat dan insya Allah dapat mengatasinya, melalui tarbiyah bagi setiap orang yang respek pada dakwah, melalui kreatifitas mewujudkan berbagai model lembaga yang tidak membiarkan seorang muslim pun kecuali pasti mendapatkan kebaikannya dan menjadikan semua arah politik yang menjadikan islam dapat memberikan sesuatu yang banyak bahkan berlebih, kita berharap masyarat islam akan tegak.

• SARANA PADA TUJUAN EMPAT
Jika jamaah ini yang dapat menghipum kekuatan aqidah dan iman, serta kekuatan persatuan dan ikatan menemukan sekelompok orang yang menegakkan islam, maka ia siap menjadi pasukan dan pendukungnya. Namun jika ia tidak menemukannya, ia akan berusaha mencari jalan ideal untuk menegakan islam. Cara itu antara lain di parlemen, selama ini ia dapat menentukan personil ahlul halli aqli

• SARANA PADA TUJUAN KELIMA
Sarana yang paling efektif untuk itu adalah menegakkan sebuah Negara islam yang besar, yang memiliki kekuatan pengaruh dalam bidang politik, ekonomi, tekhnologi,di sebagian besar wilayah bumi, atau di Negara yang memiliki wilayah territorial luas.

• SARANA PADA TUJUAN KEENAM
Sarananya adalah melangkah diatas mukadimah yang benar, yakni tegaknya kaidah-kaidah yang benar, yang dari sanalah islam di berbagai wilayah bertolak.

• SARANA PADA TUJUAN KETUJUH
Cara yang kita pergunakan adalah beraktifitas terus-menerus yang sesuai dan layak untuk memestikan bahwa dunia akan menerima dakwah.



BAB III
KESIMPULAN

Dalam memahami dakwah dalam jamaah maka yang patut kita jadikan landasan ialah hadits riwayat Bukhari Muslim” ’Hendaklah kamu komitmen kepada jamaah kaum muslimin dan imamnya.”

Ada sejumlah prinsip umum dakwah ini agar dengannya kita dapat memahami kunci-kunci lain dari dakwah ikhwan dan permasalahannya.

1. IKHWANUL MUSLIMIN memahami bahwa dalam islam terdapat tujuan, sarana, khittah, sistem, kaidah-kaidah institusi, undang-undang dan peraturan yang islami. Dengan itulah Ikhwanul Muslimin menginginkan menjadi hizbullah dan tentara sejatiNya.

2. Ikhwan pada hakekatnya menegakkan komitmen Islam selain mengakomodasi kepentingan zaman dan jangkaun operasional seluas mungkin.

3. Mmemelihara opini umum, baik di tingkat regional, nasional maupun internasional, merupakan salah satu prinsip Islam, Ikhwanul Muslimin berpijak padanya dan memberikan ruang lingkup yang secukupnya untuk memahami dengan benar.

4. Ada dua hal yang dapat dicatat berkaitan dengan hal-hal yang dijadikan sebagai pegangan oleh ikhwan.

Pertama, ia harus dibenarkan oleh syareat.
Kedua, ia harus sebanding dengan senjata musuh dan dapat mencapai tujuan.
5. Prinsip yang menjadi pegangan ikhwan dalam kaitannya prinsip luar negeri adalah prinsip maslahah dengan maslahah, jika ada seseorang yang ingin berhubungan dengan kita atas dasar maslahah namun ditukar dengan prinsip maka harus ditolak.

6. Semua wilayah pemerintahan Islam bagi ikhwan harus tunduk pada kekuasaan amirul mukminin dan seluruh perangkat pemerintahan pusat dalam perspektif undang-undang yang berlaku.

7. Dalam pemerintahan Islam harus ada sistem sentralisasi untuk urusan global dan desentralisasi untuk urusan detailnya.

Tanggung jawab dalam dakwah ialah melakukan tajdid ( pembaruan ) dan naql ( alih generasi ).
Jama’ah Ikhwanul Muslimin sejak berdirinya (1928) telah merumuskan tugasnya dengan sejelas-jelasnya, dan telah dijelaskan oleh pendirinya, Imam Syahid dengan penjelasan yang paling gamblang. Imam al-Banna telah menentukan tugas tersebut dalam empat tugas dan tujuan pokok yaitu :
Pertama, membebaskan umat dari belenggu politik, dan membangunnya dari awal yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Kedua, menegakkan system Islam yang komprehensif.
Ketiga, memerangi peradaban materi yang merusak kehidupan umat manusia.
Keempat, memimpin dunia dan membimbing umat manusia menuju jalan kebenaran sesuai dengan ajaran Islam.
Proyek peradaban Islami yang dicita-citakan Al-Ikhwan merupakan proyek kemanusiaan yang universal bertujuan mewujudkan sebaik-baik umat manusia secara umum. Proyek ini sangat luas dan membentang luas.
Hal-hal diatas yang menjadi dasar pandangan dan cita-cita (visi) yang ingin ditegakkan oleh Jama’ah Al-Ikhwan melalui gerakannya, yang sekarang telah berkembang di seluruh dunia. Sebuah gerakan menuju tatatan baru, khususnya bagi kehidupan kaum muslimin, yang semuanya bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan selaras dengan kehidupan umat manusia secara universal.
Ikhwanul Muslimin memiliki kredo berupa:
1. Allah tujuan kami (Allahu ghayatuna)
2. Rasulullah teladan kami (Ar-Rasul qudwatuna)
3. Al-Qur'an landasan hukum kami (Al-Quran dusturuna)
4. Jihad jalan kami (Al-Jihad sabiluna)
5. Mati syahid di jalan Allah cita-cita kami yang tertinggi (Syahid fiisabilillah asma amanina)



ini adalah makalah yang aku siapkan untuk mengikuti DM 2 yang diadakan KAMMDA SUMUT.. walaupun aku rasa ini belum begitu baik karena perlu penambahan lagi, terutama tentang tahapan dakwah dari ikhwanul muslimin dan pembahasan lengkap tentang politik iqomatuddin yang belum aku sertakan...(ntar nyusullah)...hehehe....

3 komentar: